Konfigurasi VLAN dan Router on a Stick pada Cisco

Konfigurasi VLAN dan Router on a Stick pada Cisco

Hello, pada kesempatan kali ini saya akan coba berbagi tutorial untuk konfigurasi VLAN dan Intervlan Routing menggunakan metode Router on Stick pada Switch dan Router Cisco. Dalam sebuah jaringan komputer, kebutuhan untuk memisahkan perangkat berdasarkan fungsi atau divisi menjadi hal yang sangat penting. Jika seluruh perangkat berada dalam satu jaringan yang sama, maka traffic broadcast akan semakin besar dan manajemen jaringan menjadi tidak efisien. 

Salah satu solusi yang umum digunakan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menerapkan VLAN (Virtual Local Area Network). VLAN memungkinkan administrator jaringan membagi satu perangkat switch fisik menjadi beberapa jaringan logis yang terpisah. Namun, ketika perangkat yang berada di VLAN berbeda perlu saling berkomunikasi, dibutuhkan mekanisme Inter-VLAN Routing.

Salah satu metode Inter-VLAN Routing yang paling sering digunakan pada jaringan berskala kecil hingga menengah adalah Router on a Stick. Metode ini memanfaatkan satu interface fisik router yang dikonfigurasi menjadi beberapa sub-interface untuk melayani komunikasi antar VLAN melalui link trunk.


Sebelum melakukan konfigurasi, ada baiknya kita memahami topologi yang digunakan pada tutorial ini. Pada topologi ini akan terdapat empat VLAN yaitu VLAN 10 (IT), 20 (HR), 30 (FIN) dan 100 (SRV). Berikut detail untuk konfigurasi IP Address dan Alokasi VLAN untuk setiap port pada Switch.
IP Address Nodes

VLAN Switch

Supaya mudah dipahami, maka tutorial ini akan saya bagi ke beberapa point :
A. Konfigurasi VLAN di Switch.
B. Konfigurasi Sub Interface Router on Stick di Router.
C. Konfigurasi DHCP Server di Router.
D. Test Konfigurasi.

A. Konfigurasi VLAN di Switch.
Pada point pertama ini kita akan melakukan konfigurasi pada switch. Adapun beberapa konfigurasi yang dilakukan pada switch yaitu hostname, membuat interface VLAN, setting mode port dan alokasi VLAN untuk port tersebut.
1. Langkah pertama adalah melakukan konfigurasi hostname untuk switch, adapun pada tutorial ini hostname switch menggunakan nama SW_Office. Dari menu user exec mode gunakan command enable untuk berpindah ke privileged exec mode, lalu gunakan command configure terminal untuk berpindah dari privileged exec mode ke global configuration mode. Untuk konfigurasi hostname sendiri gunakan command hostname [name].
Switch>enable
Switch#conf terminal 
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname SW_OFFICE
SW_OFFICE(config)# 


2. Langkah selanjutnya setelah konfigurasi hostname maka langkah selanjutnya adalah membuat interface VLAN pada switch. Gunakan command vlan [vlan_id] untuk membuat interface VLAN baru. Setelah itu kita akan diarahakan ke subconfiguration vlan, gunakan command name [vlan_name] untuk memberikan informasi nama pada interface VLAN tersebut dan gunakan exit untuk kembali ke global configuration mode. Berikut contoh konfigurasi interface VLAN pada switch di tutorial ini.

SW_OFFICE(config)#vlan 10
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_IT
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#vlan 20
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_HR
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#vlan 30
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_FIN
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#vlan 100
SW_OFFICE(config-vlan)#name VLAN_SRV
SW_OFFICE(config-vlan)#exit
SW_OFFICE(config)#


3. Setelah interface VLAN dibuat, maka langkah berikutnya adalah konfigurasi mode interface dan assign VLAN ke interface sesuai alokasi, untuk konfigurasi port switch kita akan mengacu pada informasi di tabel VLAN Switch. Untuk melakukan konfigurasi pada langkah ini silahkan gunakan command interface [interface_name] untuk masuk ke subconfiguration interface, jika interface yang dikonfigurasi lebih dari satu maka bisa menggunakan command interface range [starting_interface] - [ending_interface] atau interface range [interface_name] , [interface_name] . Setelah masuk ke subconfiguration interface maka langkah selanjutnya tentukan mode dari interface, terdapat dua mode interface yang umum digunakan, yaitu access mode dan trunk mode. Access mode digunakan untuk menghubungkan end device seperti PC, laptop, atau printer, di mana satu interface hanya membawa satu VLAN. Sementara itu, trunk mode digunakan untuk menghubungkan perangkat jaringan seperti switch ke switch atau switch ke router, yang memungkinkan satu interface membawa banyak VLAN sekaligus melalui mekanisme tagging VLAN (IEEE 802.1Q). Gunakan command switchport mode [access / trunk]. Setelah menentukan mode interface, jika port switch tersebut menggunakan mode access maka langkah selanjutnya adalah assign VLAN ID untuk interface tersebut. Untuk assign VLAN ID gunakan command switchport access vlan [VLAN_ID]. Berikut detail konfigurasinya.

SW_OFFICE(config)#interface range fastEthernet 0/1 - 2
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport access vlan 10
SW_OFFICE(config-if-range)#exit
SW_OFFICE(config)#interface range fastEthernet 0/3 - 4
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if-range)#switchport access vlan 20
SW_OFFICE(config-if-range)#exit
SW_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/5
SW_OFFICE(config-if)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if)#switchport access vlan 30
SW_OFFICE(config-if)#exit
SW_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/6
SW_OFFICE(config-if)#switchport mode access
SW_OFFICE(config-if)#switchport access vlan 100
SW_OFFICE(config-if)#exit
SW_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/24
SW_OFFICE(config-if)#switchport mode trunk
SW_OFFICE(config-if)#exit
SW_OFFICE(config)#


4. Setelah konfigurasi create interface VLAN, set mode port dan assign VLAN. Maka langkah selanjutnya adalah menyimpan konfigurasi. Gunakan command write pada mode privileged mode atau do write jika kita ingin menyimpan konfigurasi dari mode global configuration.

SW_OFFICE(config)#do write
Building configuration...
[OK]
SW_OFFICE(config)# 


B. Konfigurasi Sub Interface Router on Stick di Router.
Pada point kedua ini kita akan melakukan konfigurasi pada perangakat Router. Adapun beberapa konfigurasi yang dilakukan pada router sendiri seperti hostname, mengaktifkan interface atau port yang mengarah ke switch, membuat sub-interface dan set ip address untuk masing-masing interface sesuai alokasi. Berikut langkah-langkahnya :

1. Pertama kita konfigurasi terlebih dahulu hostname untuk router dengan command hostaname.

Router>enable
Router#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname R_OFFICE
R_OFFICE(config)#


2. Setelah mengkonfigurasi hostname maka langkah selanjutnya adalah mengaktifkan interface fisik yang mengarah ke switch, adapun interface tersebut adalah FastEthernet 0/0. Masukan command interface [interface_name] untuk masuk ke subconfiguration interface dan command no shutdown untuk mengaktifkan interface tersebut.

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0
R_OFFICE(config-if)#no shutdown
R_OFFICE(config-if)#
%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
R_OFFICE(config-if)#exit
R_OFFICE(config)#


3.  Setelah interface fisik aktif maka langkah selanjutnya adalah membuat sub interface. Untuk membuat sub interface gunakan command interface [interface_name].[id_subinterface] , contohnya interface fastethernet 0/0.10 untuk membuat subinterface VLAN 10. Setelah masuk ke subconfigation subinterface maka selanjutnya set enkapsulasi 802.1Q pada interface dengan command encapsulation dot1Q [vlan_id], contohnya encapsulation dot1Q 10. Lalu assign IP Address sesuai alokasi dengan command ip address [address] [subnetmask] dan terakhir command no shutdown untuk mengaktifkan subinterface tersebut. Berikut detail konfigurasinya.

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.10
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.10, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.100, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 10
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.10.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit
R_OFFICE(config)#

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.20
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.20, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.20, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 20
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.20.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.30
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.30, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.30, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 30
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.30.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit

R_OFFICE(config)#interface fastEthernet 0/0.100
R_OFFICE(config-subif)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface FastEthernet0/0.100, changed state to down
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0.100, changed state to up
R_OFFICE(config-subif)#encapsulation dot1Q 100
R_OFFICE(config-subif)#ip address 192.168.100.1 255.255.255.0
R_OFFICE(config-subif)#no shutdown
R_OFFICE(config-subif)#exit
R_OFFICE(config)#


4. Subinterface telah dibuat, maka langkah selanjutnya adalah konfigurasi DHCP Server untuk VLAN 10 (IT), 20 (HR) dan 30 (Finance).


C. Konfigurasi DHCP Server.

Untuk memudah konfigurasi IP Address pada end host pada VLAN IT, HR dan Finance maka kita akan membuat DHCP Server pada Router. Berikut langkah-langkahnya :
1. Langkah pertama untuk konfigurasi DHCP Server pada perangkat Cisco khususnya router atau switch adalah membuat pool terlebih dahulu. Di dalam pool sendiri berisi informasi mulai dari gateway, network dan dns server. Gunakan command ip dhcp pool [pool_name] . Setelah itu masukan informasi gateway dengan command default-router [IP Address], network dengan command network [IP_Network] [netmask]. Berikut konfigurasinya.

R_OFFICE(dhcp-config)#default-router 192.168.10.1
R_OFFICE(dhcp-config)#network 192.168.10.0 255.255.255.0
R_OFFICE(dhcp-config)#exit

R_OFFICE(config)#ip dhcp pool VLAN20_Pool
R_OFFICE(dhcp-config)#default-router 192.168.20.1
R_OFFICE(dhcp-config)#network 192.168.20.0 255.255.255.0
R_OFFICE(dhcp-config)#exit

R_OFFICE(config)#ip dhcp pool VLAN30_Pool
R_OFFICE(dhcp-config)#default-router 192.168.30.1
R_OFFICE(dhcp-config)#network 192.168.30.0 255.255.255.0
R_OFFICE(dhcp-config)#exit
R_OFFICE(config)#


2. Setelah itu kita juga dapat mengkonfigurasi exclude address atau IP Address yang tidak boleh dialokasikan , gunakan command ip dhcp excluded-address [low_ip] [end_ip] pada global configuration mode. Berikut konfigurasinya.

R_OFFICE(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.10.1 192.168.10.50

R_OFFICE(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.20.1 192.168.20.50
R_OFFICE(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.30.1 192.168.30.50


3. Konfigurasi pada router telah selesai, simpan konfigurasi command write pada mode privileged mode atau do write jika kita ingin menyimpan konfigurasi dari mode global configuration.

R_OFFICE(config)#do write

 

D. Test Konfigurasi.

Setelah konfigurasi pada Switch dan Router selesai maka langkah berikutnya adalah melakukan cek atau test konfigurasi.
1. Pertama kita lakukan konfigurasi DHCP Client pada node end devices IT, HR dan Finance. Pastikan IP yang didapat sesuai alokasi.

2. Untuk cek IP yang ter-assign di DHCP Server kita dapat gunakan command show ip dhcp binding pada privileged exec mode. Berikut outputnya.

3.  Verifikasi terakhir dapat dilakukan dengan cek ping node antar VLAN, sebagai contoh pada langkah ini kita lakukan ping dari node client ke server.


Dengan menerapkan VLAN dan Router on a Stick, administrator jaringan dapat membangun jaringan yang lebih terstruktur, aman, dan efisien. Konfigurasi ini memungkinkan pemisahan jaringan secara logis sekaligus tetap menyediakan komunikasi antar VLAN melalui satu interface router. Pemahaman konsep serta praktik konfigurasi VLAN, trunk, dan subinterface pada perangkat Cisco merupakan bekal penting bagi siapa pun yang ingin mendalami dunia networking. Semoga artikel ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat dan membantu pembaca dalam memahami serta mengimplementasikan VLAN dan Router on a Stick pada jaringan Cisco. Terima kasih.

Referensi :

Konfigurasi Remote SSH Pada Router atau Switch Cisco.

Konfigurasi Remote SSH Pada Router atau Switch Cisco.

Hello pada kesempatan kali ini saya akan mencoba berbagi tutorial untuk konfigurasi Remote SSH pada perangkat Router atau Switch Cisco. Konfigurasi remote SSH (Secure Shell) pada perangkat Cisco atau switch diperlukan agar administrator dapat mengelola perangkat jaringan secara jarak jauh dengan aman. Dibandingkan Telnet, SSH menyediakan mekanisme enkripsi sehingga proses login dan pertukaran data lebih terlindungi dari penyadapan. Oleh karena itu, penerapan SSH menjadi standar dasar dalam manajemen perangkat Cisco. 

Sebelum melakukan konfigurasi SSH (Secure Shell) pada perangkat Cisco, terdapat beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi agar proses konfigurasi dapat berjalan dengan baik. Perangkat harus sudah memiliki alamat IP sebagai akses manajemen, hostname dan domain name.

Gambar diatas merupakan topologi yang akan kita jadikan acuan konfigurasi pada tutorial ini. Laptop memiliki IP Address 192.168.1.100 dan subnetmask 24, sedangkan IP Address pada switch akan di assign ke interface VLAN1 dengan alokasi 192.168.1.2 dan subnetmask 24. Setelah memahami prasyarat awal dan topologi untuk mengkonfigurasi SSH, berikut langkah-langkah untuk konfigurasi SSH :

Konfigurasi Awal.
1. Kondisi pertama perangkat router atau switch Cisco masih menggunakan hostname default seperti Router atau Switch. Maka pertama silahkan konfigurasi hostname perangkat dengan command hostname [hostname_device], pada tutorial ini kita set hostname untuk switch menjadi SW_0 :
Switch>enable
Switch#configure terminal
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Switch(config)#hostname SW_0
SW_0(config)# 

2. Setelah mengkonfigurasi hostname maka langkah selanjutnya adalah set domain name untuk perangkat dengan command ip domain-name [domain_name], pada tutorial ini kita set domain name untuk switch menjadi sw_0.local.
SW_0(config)#ip domain-name sw_0.local

3. Langkah selanjutnya adalah konfigurasi IP Address untuk interface VLAN 1. Masuk ke subconfiguration interface VLAN 1. Kemudian masukan IP Address sesuai alokasi dan jangan lupa aktifkan interface dengan command no shutdown.
SW_0(config)#interface vlan 1
SW_0(config-if)#ip address 192.168.1.2 255.255.255.0
SW_0(config-if)#no shutdown
SW_0(config-if)#
%LINK-3-UPDOWN: Interface Vlan1, changed state to down

%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Vlan1, changed state to up

SW_0(config-if)exit
SW_0(config)#

 

4.  Setelah mengkonfigurasi IP Address untuk switch maka langkah selanjutnya kita membuat user lokal yang digunakan untuk melakukan remote SSH. Pada tutorial ini kita akan mencoba membuat dua user dengan privileged yang berbeda. Privilege level 1 dan 15 dapat dikatakan sebagai level bawaan (default) pada Cisco IOS, di mana level 1 merupakan default user EXEC mode yang ditandai dengan prompt (>), sedangkan level 15 merupakan default privileged EXEC mode dengan prompt (#).

SW_0(config)#username max privilege 15 secret max123
SW_0(config)#username senna privilege 1 secret senna123


Konfigurasi SSH.
5. Untuk memulai konfigurasi pertama kita generate RSA key terlebih dahulu. Generate RSA key dilakukan untuk membuat kunci keamanan yang digunakan SSH agar koneksi remote ke perangkat Cisco menjadi aman dan terenkripsi. Gunakan command crypto key generate rsa kemudian masukan value untuk ukuran key.

SW_0(config)#crypto key generate rsa

The name for the keys will be: SW_0.sw_0.local

Choose the size of the key modulus in the range of 360 to 4096 for your

General Purpose Keys. Choosing a key modulus greater than 512 may take

a few minutes.


How many bits in the modulus [512]: 2048

% Generating 2048 bit RSA keys, keys will be non-exportable...[OK]


SW_0(config)# 


6. Setelah itu tentukan versi SSH, direkomendasikan untuk menggunakan SSH versi 2.

SW_0(config)#ip ssh version 2


7. Langkah berikutnya adalah konfigurasi VTY (Virtual Teletype) yang merupakan virtual interface yang digunakan untuk remote koneksi.

SW_0(config)#line vty 0 4
SW_0(config-line)#login local
SW_0(config-line)#transport input ssh
SW_0(config-line)#exec-timeout 5
SW_0(config-line)#exit
SW_0(config)#

Penjelaskan singkat command pada langkah ini

  • line vty 0 4 → Mengonfigurasi jalur akses remote VTY 0 sampai 4
  • login local → Menggunakan user lokal sebagai metode login
  • transport input ssh → Membatasi akses remote hanya melalui SSH
  • exec-timeout 5 → Mengatur idle menjadi 5 menit.
  • exit → Keluar dari konfigurasi VTY


8. Langkah terakhir adalah simpan konfigurasi dengan command write pada privileged exec mode.

SW_0(config)#exit
SW_0#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

SW_0#write
Building configuration...
[OK]
SW_0#


Testing Remote SSH.  
Langkah konfigurasi SSH pada perangkat Switch telah selesai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan testing remote SSH dari client. Berikut hasil dari remote SSH dari client.


Dapat dilihat dari hasil testing Remote user max dengan privileged level 15 akan langsung diarahkan ke privileged exec mode sedangkan user senna dengan privileged level 1 diarahkan ke user exec mode. User senna perlu melakukan autentikasi kembali jika ingin masuk ke privileged exec mode. 

Dengan mengaktifkan SSH pada perangkat Cisco, administrator dapat melakukan pengelolaan perangkat jaringan secara remote dengan lebih aman dan efisien. Penerapan konfigurasi ini menjadi langkah dasar yang penting untuk meningkatkan keamanan akses manajemen dan mendukung operasional jaringan. Demikian tutorial ini bermanfaat sekian dan terimakasih.

Referensi :

Memahami Mode Konfigurasi Pada Cisco IOS.

Memahami Mode Konfigurasi Pada Cisco IOS.

Hello, pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang mode konfigurasi yang terdapat pada perangkat Router atau Switch Cisco yang khusunya menggunakan sistem operasi IOS. Perangkat jaringan dari Cisco Systems menggunakan Command Line Interface (CLI) sebagai metode utama dalam proses konfigurasi dan manajemen sistem. CLI Cisco memiliki beberapa mode konfigurasi dengan tingkat akses yang berbeda-beda, mulai dari mode monitoring hingga mode konfigurasi lanjutan. Pemahaman terhadap setiap mode konfigurasi ini sangat penting agar administrator jaringan dapat melakukan pengaturan perangkat secara terstruktur, aman, dan efisien. Berikut mode konfigurasi yang terdapat pada perangkat Cisco :

  1. User Exec Mode.
    Mode awal saat pertama kali login ke perangkat Cisco. Akses pada mode ini sangat terbatas, hanya untuk monitoring dasar. Pada mode ini ditandai dengan simbol setelah hostname perangkat.
    Router>  

     

  2. Privileged Exec Mode.
    Mode pada level berikutnya adalah Privileged Exec Mode. Mode ini digunakan untuk manajemen dan analisis sistem, seperti melihat konfigurasi lengkap, melakukan backup konfigurasi, menyimpan konfigurasi serta sebagai pintu masuk ke mode konfigurasi global. Adapun pada mode ni ditandai dengan simbol setelah hostname perangkat. Gunakan command enable di User Exec Mode untuk masuk ke Privileged Exec Mode.

    Router>enable

    Router#

     

  3. Global Configuration Mode.
    Mode selanjutnya adalah Global Configuration Mode, mode ini ditandai dengan adanya (config)# pada prompt. Mode ini berfungsi untuk mengatur parameter utama perangkat, seperti hostname, routing, keamanan dasar, dan untuk masuk ke mode konfigurasi yang lebih spesifik. Untuk masuk ke mode ini gunakan command configure terminal dari mode privileged exec mode.

    Router#configure terminal

    Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.

    Router(config)#

     

Setelah Global Configuration Mode terdapat beberapa sub configuration mode yang memiliki fungsinya masing-masing. 

  1. Interface Configuration Mode.
    Subconfiguration ini digunakan untuk mengatur interface fisik maupun logical, seperti pemberian IP address, pengaturan VLAN, mode trunk/access, serta mengaktifkan atau menonaktifkan interface. Untuk masuk ke mode ini gunakan command interface [interface_name], berikut contoh penggunaannya.

    Router(config)#interface gigabitEthernet 0/0/0

    Router(config-if)#

    Pada contoh diatas kita akan melakukan konfigurasi pada interface gigabitEthernet 0/0/0, untuk interface name sendiri sesuaikan dengan nama interface yang tersedia pada perangkat. Pada mode ini ditandai dengan adanya (config-if) pada prompt.

  2. Line Configuration Mode.
    Berfungsi untuk mengatur akses login ke perangkat, baik secara lokal maupun remote, termasuk pengaturan autentikasi, timeout, dan metode akses seperti SSH.Untuk masuk ke mode ini gunakan command line vty , berikut contoh pengunaannya.

    Router(config)#line vty 0 4
    Router(config-line)#

    Command line vty 0 4 digunakan untuk masuk ke mode konfigurasi Virtual Terminal (VTY) pada perangkat Cisco Systems, yaitu jalur akses remote melalui SSH atau Telnet. Rentang 0 4 menunjukkan bahwa konfigurasi diterapkan pada lima sesi remote sekaligus (VTY 0 hingga 4). Pada moide ini ditanda dengan adanya (config-line) pada prompt.

  3.  Router Configuration Mode.
    Subconfiguration mode ini Digunakan untuk mengonfigurasi routing dinamis, seperti OSPF, EIGRP, atau RIP, agar perangkat dapat bertukar informasi routing secara otomatis. 

    Router(config)#router ospf 1
    Router(config-router)#

    Pada contoh diatas kita masuk ke dalam subconfiguration router untuk konfigurasi routing OSPF dengan ID 1. Untuk masuk ke subconfiguration ini biasanya diawali dengan command kemudian dilanjutkan dengan memilih routing dinamis apa yang akan dikonfigurasi. Pada mode ini ditandai dengan adanya (config-router) pada prompt.

  4. VLAN Configuration Mode.
    Subconfiguration ini digunakan untuk mengelola VLAN yang sudah dibuat, biasanya pada mode ini digunakan untuk memberikan nama VLAN. Untuk masuk ke dalam subconfiguration mode ini gunakan command vlan [id] dan pada mode ini ditandai dengan (config-vlan) pada prompt.

    Switch(config)#vlan 10
    Switch(config-vlan)# 

     

Setelah mengetahui Mode dan Subconfiguration Mode pada perangkat Cisco IOS tentunya kita juga harus memahami command atau shorcut keyboard yang digunakan untuk berpindah dari mode satu ke mode lainnya. Berikut saya rangkum command atau shortcut yang digunakan dalam sebuah tabel.


Memahami mode konfigurasi pada perangkat Cisco Systems merupakan hal mendasar yang harus dikuasai, supaya administrator jaringan dapat melakukan konfigurasi, monitoring, dan troubleshooting secara terstruktur, aman, serta meminimalkan kesalahan akibat perubahan konfigurasi yang tidak tepat. Dengan pemahaman yang baik terhadap fungsi dan ciri setiap mode, proses pengelolaan perangkat jaringan dapat dilakukan dengan lebih efisien dan profesional. Demikian sedikit penjelasan singkat yang dapat saya buat, semoga artikel ini bermanfaat sekian dan terima kasih.

Referensi :

 

Konfigurasi High Availability (HA) di Proxmox

Konfigurasi High Availability (HA) di Proxmox

 

Hello, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memberikan tutorial konfigurasi high availability (HA) pada Proxmox Virtual Environment (PVE) versi 7.4-3. Dengan adanya high availability tentunya kita dapat meminimalkan dampak down time yang di akibatkan karena adanya masalah pada node server fisik. High availability memungkinkan virtual machine yang ada di dalam proxmox untuk terhubung ke node server fisik lain yang sudah tergabung dalam cluster, jika node server fisik virtual machine tersebut mati atau mengalami masalah maka virtual machine akan berpindah ke node server fisik yang lain dan otomatis menyala. Jadi dengan adanya fitur ini sangat memudahkan pekerjaan seorang system administrator.

Pada tutorial ini saya memiliki tiga node dan di salah satu node (pve1 / max) telah terdapat sebuah VM. Ketiga node tersebut telah terkonfigurasi cluster dan ceph storage. Untuk detail topologi yang digunakan pada tutorial ini dapat dilihat pada gambar dibawah. Sebelum melakukan konfigurasi ada beberapa system requirement di pve.proxmox.com/wiki/High_Availability_Cluster#System_requirements yang perlu diperhatikan.

Baiklah tanpa berlama-lama berikut langkah-langkah untuk konfigurasi HA pada Proxmox :
1. Pertama kita akan memasukan selurruh node ke dalam grup HA. Klik Datacenter, kemudian masuk ke menu HA > Groups dan klik Create. Lalu akan muncul tampilan Create: HA Group, pada tampilan ini silahkan masukan nama grup pada parameter ID. Selanjutnya pilih node yang akan dimasukan ke dalam HA grup dengan memberikannya tanda centang, jika sudah silahkan klik Create.

2. Jika sudah membuat grup HA, langkah selanjutnya menambahkan virtual machine atau container ke dalam resource HA. Klik menu HA, kemudian pada bagian resources klik Add. Lalu pilih vm atau container yang akan dimasukan ke resources pada parameter VM dan pilih grup HA yang telah dibuat pada parameter Group. Pada tahap ini terdapat satu parameter lagi yang perlu diperhatikan yaitu Request State, parameter ini digunakan untuk menentukan perlakukan kepada VM setelah berpindah ke node server fisik yang lain. Terdapat beberapa state yang dapat digunakan pada parameter ini. Jika sudah silahkan klik Add.

3. Berikut tampilan dari HA yang telah kita konfigurasi.

4. Untuk mencoba konfigurasi HA yang telah kita buat, silahkan matikan node server fisik dimana VM berada. Jika berhasil maka VM tersebut akan berpindah ke node server fisik yang lain.

Demikianlah uraian singkat langkah-langkah konfigurasi HA pada proxmox, semoga tutorial ini bermanfaat dan sekian terima kasih.

Referensi :

Konfigurasi Ceph Storage Pada Proxmox

Konfigurasi Ceph Storage Pada Proxmox

 

Hello, Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memberikan tutorial bagaimana mengkonfigurasi ceph storage pada Proxmox VE (Virtual Environment) versi 7.4-3. Ceph sendiri merupakan sebuah platform storage open source yang diperuntukan untuk solusi storage modern. Dengan adanya Ceph memungkinkan kita untuk mengembangkan storage ke level dengan kapasitas yang lebih besar tanpa mengkhawatirkan akan terjadinya single point of failure untuk aplikasi atau service yang memerlukan storage yang fleksibel dan high avaibility.

Sebelum menerapkan ceph storage pada proxmox ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah jumlah minimal node adalah tiga dan telah terkonfigurasi cluster node. Jika belum memahami langkah mengkonfigurasi cluster node pada proxmox dapat dilihat di ferryardiansyah.my.id/2023/08/konfigurasi-cluster-node-.html. Untuk detail dari hal yang perlu diperhatikan sebelum menerapkan ceph storage pada proxmox dapat dilihat di pve.proxmox.com/wiki/Deploy_Hyper-Converged_Ceph_Cluster#_precondition.

Pada tutorial ini saya memiliki tiga node yang telah berada pada satu cluster dan jaringan yang sama, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah. Sedangkan untuk spesifikasi storage saya menggunakan dua storage, dimana storage pertama sebesar 100 GB untuk operating system proxmox itu sendiri dan storage kedua sebesar 100 GB juga yang akan di alokasikan untuk konfigurasi Ceph.

Karena tutorial ini cukup panjang saya akan mencoba untuk mengelompokannya menjadi lima tahap, yaitu :
A. Konfigurasi Repository.
B. Install Ceph.
C. Konfigurasi Ceph Monitor dan Manager.
D. Konfigurasi OSD.
E. Konfigurasi Pools.

Baiklah tanpa berlama berikut langkah untuk mengkonfigurasi Ceph Storage pada Proxmox :
A. Konfigurasi Repository.
1. Karena secara default Ceph belum terinstall pada Proxmox, maka langkah pertama adalah mengkonfigurasi repository. Sebelum itu kita disable terlebih dahulu repository yang tidak dibutuhkan yaitu pve-enterprise. Silahkan masuk ke menu Updates > Repositories kemudian klik bagian repository pve-enterprise dan klik Disable.

2. Kemudian tambahkan repository No-Subscription dan Ceph Quincy. Masih di menu yang sama klik Add lalu tambahkan kedua repository tersebut.


3. Setelah repository sudah ditambahkan maka langkah berikutnya adalah melakukan update pada proxmox dengan menjalankan command apt update; apt dist-upgrade; melalui remote ssh atau langsung via web console proxmox.

Tahap pertama sudah selesai, sebagai catatan lakukan tahap ini di setiap node dan pastikan langkah ketiga berhasil. Lanjut ke tahap dua.

B. Install Ceph.
1. Pertama masuk ke menu Ceph lalu klik Install Ceph.

2. Kemudian akan muncul tampilan setup instalasi Ceph, silahkan terlebih dahulu versi ceph yang akan digunakan pada parameter Ceph version to install, lalu klik Start quincy instalastion. Pada tutorial ini saya menggunakan versi Quincy (17.2).

3. Selanjutnya adalah menginstall package yang diperlukan Ceph, cukup tekan enter pada keterangan Do you want to continue? dan tunggu proses ini hingga selesai. Jika sudah klik Next.

4. Langkah selanjutnya adalah konfigurasi network, silahkan masukan ip network pada parameter Public Network IP/CIDR, lalu klik Next

5. Instalasi Ceph telah selesai, klik Finish untuk menutup tampilan instalasi.

6. Berikut tampilan pada menu Ceph jika instalasi telah berhasil.

Tahap kedua telah berhasil, sebagai catatan lakukan tahap ini di setiap node. 

C. Konfigurasi Ceph Monitor dan Manager.
1. Pertama kita konfigurasi terlebih dahulu Ceph monitor. Silahkan masuk ke menu Ceph > Monitor, kemudian pada bagian monitor klik Create.

2. Tambahkan setiap node.


3. Berikut tampilan pada bagian monitor jika konfigurasi Ceph monitor sudah selesai.

4. Selanjutnya adalah mengkonfigurasi Ceph Manager. Masih di menu yang sama, klik Create pada bagian manager.

5. Tambahkan setiap node.


6. Berikut tampilan pada bagian manager jika konfigurasi Ceph manager telah selesai.

Tahap ketiga telah selesai. Untuk tahap ini cukup dikonfigurasikan pada salah satu node saja, pada tutorial ini saya mengkonfigurasinya pada node yang menjadi master cluster yaitu pve1 (max).

D. Konfigurasi OSD
1. Langkah pertama untuk mengkonfigurasi OSD silahkan masuk ke menu Ceph > OSD dan klik Create OSD.

2. Kemudian akan muncul tampilan untuk membuat OSD, tentukan terlebih dahulu disk mana yang akan dijadikan sebagai OSD pada parameter Disk. Jika sudah silahkan klik Create.

3. Tunggu prosesnya hingga selesai terlebih dahulu.

4. Berikut tampilan dari osd yang telah berhasil dibuat, konfigurasi osd bisa dikatakan berhasil apabila statusnya up/in.

Tahap konfigurasi OSD telah selesai, sebagai catatan untuk tahap ini lakukanlah pada setiap node dan kurang lebih jika sudah berhasil di seluruh node maka tampilannya seperti dibawah. Tahap selanjutnya adalah menyatukan OSD yang sudah dibuat ke sebuah Ceph pool.

E. Konfigurasi Ceph Pool
1. Langkah pertama silahkan masuk ke menu Ceph > Pools kemudian klik Create.

2. Langkah selanjutnya adalah melakukan beberapa konfigurasi pada Ceph pool. Pada tutorial ini cukup konfigurasi nama untuk pool pada parameter Name, untuk parameter yang lain cukup biarkan default saja.

3. Tunggu prosesnya hingga selesai.

4. Berikut tampilan dari Ceph pool yang telah dibuat tadi, sebagai catatan untuk tahap ini cukup dilakukan pada salah satu node saja.

Demikianlah uraian langkah-langkah untuk mengkonfigurasi Ceph storage pada Proxmox, dengan lima tahap diatas kita telah selesai untuk membuat Ceph storage pada Proxmox. Menurut saya dengan adanya fitur ini merupakan solusi apabila kita memiliki beberapa node server dan ingin memaksimalkan resource yang ada, dengan fitur ini kita bisa menghindari terjadinya single point of failure apabila terdapat salah satu node server yang bermasalah. Sekian dari saya, semoga bermanfaat. Jika terdapat kekurangan pada tutorial ini, mungkin teman-teman bisa menyampaikannya di kolom komentar ya. Terima kasih.

Referensi :

Cara Konfigurasi Cluster Node Pada Proxmox

Cara Konfigurasi Cluster Node Pada Proxmox

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memberikan tutorial bagaimana membuat sebuah cluster node pada sekumpulan server yang menggunakan operating system Proxmox Virtual Environment (PVE). Adapun pada tutorial kali ini saya memiliki tiga server dengan operating system Proxmox Virtual Environment versi 7.4-3. Cluster sendiri merupakan salah satu fitur yang sediakan proxmox untuk membuat grup pada sekumpulan node server fisik. Adapun kelebihan yang kita dapatkan ketika menerapkan cluster pada sekumpulan node server fisik yang kita miliki, diantaranya :
- Manajemen yang terpusat melalui web based.
- Kemudahan migrasi virtual machine dan kontainer antar server fisik.
- Proses deployment yang cepat.

Sebelum melakukan konfigurasi cluster, adapun requirement yang dapat kita lihat pada pve.proxmox.com/wiki/Cluster_Manager#_requirements dan pve.proxmox.com/wiki/Cluster_Manager#_preparing_nodes. Adapun pada tutorial kali ini saya memiliki 3 node server yang terdiri dari pve1 (max), pve2 (checo) dan pve3 (marko). Ketiga node server tersebut berada pada subnet jaringan yang sama, untuk lebih detailnya dapat dilihat pada gambar topologi dibawah.

Baiklah tanpa berlama-lama, berikut langkah-langkah untuk mengkonfigurasi cluster node pada proxmox :
1. Langkah pertama tentukan terlebih dahulu node yang akan menjadi master, pada tutorial ini saya menjadikan pve1 (max) menjadi master. Lalu remote node tersebut via SSH atau menggunakan web console dan masukan command untuk membuat cluster, kali ini saya membuat cluster dengan nama greatest.

pvecm create [nama_cluster]

 


2. Setelah itu langkah berikutnya adalah menggabungkan node-node lain ke cluster yang telah dibuat pada node yang menjadi master tadi. Remote node tersebut via SSH atau menggunakan web console kemudian masukan command pvecm add [IP_Address_Node_Master_Cluster] untuk menggabungkan node tersebut ke dalam cluster, setelah menjalakan command tersebut masukan password root dari node yang menjadi master cluster.
Konfigurasi pada pve2 (checo).

Konfigurasi pada pve3 (marko).

3. Konfigurasi cluster sudah selesai, untuk memastikan konfigurasi berhasil kita bisa mengakses node lewat browser. Jika konfigurasi berhasil maka semua node yang telah tergabung pada cluster akan muncul.

Demikianlah uraian singkat langkah-langkah konfigurasi cluster pada proxmox. Dari konfigurasi cluster ini dapat kita kembangkan lagi untuk membuat konfigurasi cluster storage dan high avaibility (HA), jika tidak ada kendala akan saya coba untuk membuat tutorialnya. Sekian dari saya semoga tutorial ini bermanfaat, terima kasih.

Referensi :